RESUME PERTEMUAN KE-7
STEREOKIMIA
A. Konfigurasi
mutlak dan relative
Konfigurasi dibedakan menjadi dua, yaitu konfigurasi
relatif dan konfigurasi absolut. Konfigurasi Senyawa organik Konfigurasi
reLatif senyawa organik Konfigurasi ini dikatakan relatif karena cara
penentuannya didasarkan atas perbandingan dengan senyawa pembanding. Senyawa
pembanding untuk golongan karbohidrat (sakarida) adalah D-gliseraldehida
(dengan gugus OH di sebelah kanan) dan L-gliseraldehida (dengan gugus OH di
sebelah kin). Untuk golongan asam amino, senyawa pembandingnya adalah D-alanina
(dengan NH2 di sebelah kanan) dan L-alanina (dengan NH2 di sebelah kin). D
singkatan dan dextro, dan bahasa Latin dexter yang artinya kanan, dan L
singkatan dan levo, dan bahasa Latin laevus yang artinya kiri. Pada umumnya, di
alam banyak dijumpai asam amino dengan konfigunasi relatif L, sedangkan
karbohidrat pada umumnya ditemukan dalam bentuk konfigurasi nelatif D.
Konfigurasi absolut Konfigurasi D dan L secara terbatas hanya berlaku pada
senyawa-senyawa dan golongan karbohidrat dan asam amino saja. Sementara itu,
senyawa organik terdiri dan banyak golongan senyawa yang tidak saja mengandung
gugus hidroksi (OH) dan gugus amino (NH2), tetapi juga gugus-gugus yang lain.
Untuk mengatasi hal in tiga orang ahli kimia, yaitu Cahn (dari inggris), Ingold
(dari Swiss), dan Prelog (Swiss) mengusulkan cara penentuan konfigurasi atom
karbon stereogenik baru yang didasarkan atas aturan pronitas (priority rule)
atau aturan urutan (sequence rule). Aturan tersebut mengatakan bahwa atom-atom
utama dan keempat gugus yang terikat langsung dengan atom karbon pusat stereogenik
diunutkan atau dipnionitaskan berdasarkan nomor atomnya. Atom yang terikat
langsung dengan atom karbon stereogenik diberi pnioritas sebagai yang besar
(large = L), berikutnya atom yang lebih rendah nomor atomnya daripada L diberi
prioritas sebagai menengah (medium, M), dan atom yang lebih kecil dan M
diprioritaskan sebagai kecil (small = S), sedangkan gugus/atom yang paling
kecil diprioritaskan sebagai smallest, Sst. Apabila dalam penentuan pnionitas
tersebut terdapat atom-atom utama yang mempunyai nomor atom yang sama, maka
hams dilakukan penentuan prioritas terhadap atom kedua, dan berikutnya yang
tenikat pada atom utama tersebut (misalnya OCH3 dengan OH; CH dengan C2H5 atau
dengan C3H7; CHO dengan COOH atau dengan COOR atau dengan CONH2), sehingga
dapat diperoleh urutan pnionitas: L (1) > M (2) > S(3)> Sst (4).
Aturan tersebut juga memprioritaskan ikatan rangkap tiga > ikatan rangkap
dua > ikatan tunggal > pasangan elektron bebas. Namun demikian, atom
lebih diprioritaskan daripada ikatan rangkap tiga atau rangkap dua, misalnya
C—O—C lebih dipnioritaskan daripada C=C atau C ≡ C. Selain itu, —CH2 di dalam cincin (lingkar), Iebih
diprioritaskan danipada —CH2 atau —CH3 di luar cincin (lingkar) Orbital Atom
dari Senyawa Organik Orbital atom dalam senyawa organik merupakan suatu daerah
teoritik yang berada pada sekitar inti atom, yang kemungkinan ditemukannya
elektron sangat besar. Orbital atom dalam senyawa organik menunjukkan atau
menggambarkan sebuah awan dimana pada awan-awan tersebut, elektron – elektron
dari tingkat energi mudah ditemukan di sekitar inti atom. Dalam kimi organik
atau lebih spesifik dalam senyawa organik, kita dituntut untuk mengetahui hal –
hal berikut : Orbital s : memiliki bentuk yang simetris di sekitar inti Orbital
p : memiliki bentuk seperti halter dengan inti pada pusat Dengan mengecualikan
tingkat energi pertama, yang hanya mengandung orbital s, setiap tingkat energi
utama mempunyai satu orbital s dan tiga orbital p yang saling memebentuk sudut
sebesar 90o. Dan berikut merupakan bentuk orbital dari orbital s,p,d dan f.
Setiap orbital dapat menampung dua elektron. Dan dapat kita ingat bahwa urutan
pengisian adalah seperti terlihat pada gambar berikut diisi dari energi
terendah sampai energi yang paling tinggi. itulah sedikit uraian tentang konsep
Orbital atom yang penting dalam senyawa organik
B. Pemisahan
campuran resemik
Campuran rasemik artinya suatu campuran yang mengandung sepasang enantiomer
dalam jumlah yang sama. Sepasang enentiomer itu adalah enantiomer R dan enentiomer
S. Dalam kebanyakan reaksi di laboratorium,
seorang ahli kimia menggunakan bahan baku akiral ataupun rasemik dan memperoleh
produk akiral dan rasemik. Oleh karena itu sering kiralitas (atau tiadanya
kiralitas) pereaksi dan produk diabaikanDalam laboratorium
pemisahan fisis suatu campuran rasemik menjadi enantiomer-enantiomer murni
disebut resolusi (atau resolving) campuran rasemik itu. Pemisahan natrium
amonium tartarat rasemik oleh Pasteur adalah suatu resolusi campuran tersebut.
Enantiomer-enantiomer yang mengkristal secara terpisah merupakan gejala yang
sangat jarang, jadi cara Pasteur tidak dapat dianggap sebagai suatu teknik yang
umum. Karena sepasang enantiomer itu menunjukkan sifat-sifat fisika dan kimia
yang sama, maka tidak dapat dipisahkan dengan cara kimia atau fisika biasa.
Sebagai gantinya, ahli kimia terpaksa mengandalkan reagensia kiral atau katalis
kiral (yang hampir selalu berasal dari dalam organisme hidup). Suatu cara untuk
memisahkan campuran rasemik atau sekurangnya mengisolasi enantiomer murni
adalah mengolah campuran itu dengan suatu mikroorganisme yang hanya akan
mencerna salah satu dari enantiomer itu. Misalnya (R)- nikotina murni dapat
diperoleh dari (R)(S)- nikotina dengan menginkubasi campuram rasemik itu dengan
bakteri Pseudomonas Putida yang mengoksidasi (S)- nikotina tetapi tidak
(R)-enantiomer.